ILS Law Firm

Pasal 395 KUHP: Pemalsuan Surat dan Penggunaan Surat Palsu

Picture of Syukrian Rahmatul'ula, SH

Syukrian Rahmatul'ula, SH

Lawyer ILS Law Firm

Pemalsuan surat merupakan salah satu tindak pidana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pemalsuan surat perjanjian, surat kuasa, surat pernyataan, kwitansi, hingga dokumen yang digunakan sebagai alat bukti dalam suatu hubungan hukum.

Selain pembuat surat palsu, hukum pidana di Indonesia juga dapat menjerat orang yang menggunakan surat palsu seolah-olah surat tersebut asli. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa seseorang tidak harus menjadi pembuat surat palsu untuk dapat dipidana.

Melalui Pasal 395 KUHP Baru (UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), pembentuk undang-undang mengatur secara tegas mengenai tindak pidana pemalsuan surat beserta penggunaan surat palsu.

Apa yang Dimaksud dengan Pemalsuan Surat?

Pemalsuan surat adalah perbuatan membuat suatu surat yang tidak benar atau mengubah isi suatu surat sehingga tidak lagi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tujuan dari perbuatan tersebut adalah agar surat itu dipergunakan seolah-olah asli atau benar sehingga dapat menimbulkan akibat hukum.

Tidak semua surat dapat menjadi objek tindak pidana pemalsuan surat. Pasal 395 KUHP Baru hanya melindungi surat yang memiliki nilai hukum, yaitu surat yang dapat:

  • menimbulkan suatu hak;
  • menimbulkan suatu perikatan atau kewajiban;
  • membebaskan utang; atau
  • digunakan sebagai alat bukti mengenai suatu keadaan atau peristiwa hukum.

Apa yang Dimaksud dengan Penggunaan Surat Palsu?

Penggunaan surat palsu adalah perbuatan memakai surat yang diketahui tidak benar atau telah dipalsukan seolah-olah surat tersebut asli dan benar.

Dengan demikian, seseorang dapat dipidana meskipun ia bukan orang yang membuat surat palsu. Selama orang tersebut mengetahui bahwa surat tersebut palsu dan tetap menggunakannya sehingga berpotensi menimbulkan kerugian, maka perbuatannya dapat dijerat dengan Pasal 395 ayat (2) KUHP Baru.

Contoh Kasus yang Dapat Menjadi Objek Pasal 395 KUHP Baru

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh kasus dalam praktik yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana pemalsuan surat atau penggunaan surat palsu:

1. Pemalsuan Sertifikat Tanah

Seseorang memalsukan sertifikat hak milik (SHM) atau mengubah data pada sertifikat tanah untuk menjual tanah milik orang lain.

2. Surat Kuasa Palsu untuk Penjualan Aset

Pelaku membuat surat kuasa palsu atas nama pemilik kendaraan atau tanah, lalu menggunakannya untuk menjual aset tersebut.

3. Kwitansi Pembayaran Fiktif

Seseorang membuat kwitansi palsu seolah-olah telah melakukan pembayaran utang, padahal tidak pernah terjadi.

4. Pemalsuan Slip Gaji untuk Kredit Bank

Pelaku memalsukan slip gaji untuk mendapatkan pinjaman bank atau kredit kendaraan.

5. Surat Keterangan Kerja Palsu

Seseorang membuat surat keterangan kerja palsu untuk melamar pekerjaan atau mengajukan visa.

6. Pemalsuan Surat Perjanjian Utang Piutang

Pelaku mengubah isi perjanjian utang piutang untuk menambah nominal atau syarat tertentu.

7. Surat Waris Palsu

Seseorang memalsukan surat ahli waris untuk mengklaim harta peninggalan.

8. Pemalsuan Dokumen Perusahaan

Pelaku memalsukan akta perusahaan atau laporan keuangan untuk mendapatkan investor atau tender.

Bunyi Lengkap Pasal 395 KUHP Baru

Pasal 395 ayat (1)

“Setiap Orang yang membuat secara tidak benar atau memalsu Surat yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau meminta orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana karena pemalsuan Surat, dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak kategori VI.”

Pasal 395 ayat (2)

“Setiap Orang yang menggunakan Surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana dengan pidana yang sama dengan ayat (1).”

Unsur-Unsur Tindak Pidana Pasal 395 KUHP Baru

Agar suatu perbuatan dapat dipidana, unsur-unsur berikut harus terpenuhi:

1. Adanya Surat yang Memiliki Akibat Hukum

Surat harus menimbulkan hak, kewajiban, atau menjadi alat bukti.

2. Adanya Perbuatan Pemalsuan

Terdapat tindakan membuat atau mengubah isi surat.

3. Adanya Niat Menggunakan Surat Seolah-Asli

Pelaku bermaksud menggunakan surat tersebut sebagai dokumen sah.

4. Adanya Potensi Kerugian

Penggunaan surat dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

5. Pengetahuan atas Kepalsuan

Untuk pengguna, harus diketahui bahwa surat tersebut palsu.

Ancaman Pidana Pasal 395 KUHP Baru

Ancaman pidana:

  • penjara paling lama 6 (enam) tahun, atau
  • denda paling banyak Kategori VI.

Apakah Setiap Dokumen Tidak Benar Termasuk Pemalsuan?

Tidak. Banyak kasus merupakan sengketa perdata seperti wanprestasi atau perbedaan tafsir perjanjian. Oleh karena itu, diperlukan analisis hukum untuk menentukan apakah suatu peristiwa termasuk tindak pidana atau bukan.

Konsultasikan Perkara Pemalsuan Surat kepada ILS Law Firm

Apabila Anda menjadi korban atau justru dilaporkan dalam kasus pemalsuan surat, ILS Law Firm siap memberikan pendampingan hukum profesional.

Layanan kami meliputi:

  • analisis unsur Pasal 395 KUHP Baru;
  • pemeriksaan keaslian dokumen dan alat bukti;
  • pendampingan pelaporan di Kepolisian;
  • pendampingan pemeriksaan sebagai saksi atau terlapor;
  • penyusunan strategi pembelaan hukum;
  • pendampingan hingga persidangan.

Setiap perkara memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan strategi hukum yang tepat.

Hubungi Kami

📞 Telepon / WhatsApp: 0813-9981-4209
📧 Email: info@ilslawfirm.co.id

Hubungi ILS Law Firm untuk konsultasi hukum terkait pemalsuan surat dan penggunaan surat palsu berdasarkan Pasal 395 KUHP Baru.

Publikasi dan Artikel

ILS Law Firm menyediakan tulisan-tulisan sebagai sarana edukasi dan panduan penyelesaian permasalahan terbaik dengan tingkat obyektifitas setinggi mungkin.